Kamis, 07 Maret 2013

KEJUJURAN Itu Kesederhanaan Yang PALING MEWAH


Bismillahirrahmaanirrahim..

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Kejujuran itu kesederhanaan yang paling mewah, mengapa dikatakan demikian ?!

Kejujuran itu terdengarnya sederhana, namun sesungguhnya ia adalah Mahkota kemuliaan bagi insan yang beriman.
Ia adalah perhiasan jiwa yang lebih bercahaya dari intan berlian dan lebih mempesona dari bintang yang gemerlapan.
Kejujuran adalah Tiang agama, Pilar etika, dan Pangkal wibawa.
Tanpa kejujuran maka Agama tidak lengkap, Akhlaq tidak
sempurna dan Wibawa akan sirna..

Oleh karena itu Allah menyuruh kita untuk Berperilaku jujur dan benar sebagaimana dalam firman-Nya :
”Hai orang-orang yang Beriman, Bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah Perkataan yang Benar". (QS. Al-Ahzab : 70).

Hal yang penting dalam membina Persahabatan dan Segala hubungan dengan sesama adalah Kejujuran, Ketulusan dan Kerendahan Hati untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing...

Sesungguhnya orang yang berkata Jujur akan mendapatkan
Tiga hal , yaitu ; Kepercayaan,Cinta dan Rasa hormat.
(khalifah Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu).

Di akhir zaman ini begitu sulitnya memegang kejujuran, namun bukan berarti tak bisa kita miliki.Dengan niat baik dan usaha yang sungguh-sungguh semoga Allah menganugerahkan sikap jujur menjadi kepribadian kita,..

Aamiin Ya Robbal Allamiin..
"

‎---~~~** Muhasabah ( Renungan Diri ) **~~~---



‎Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terjadi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar bersemayam dalam hatinya. Inilah sifat yang melekat pada iblis. Sifat inilah yang berusaha ditransfer iblis kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya.

Sifat ini ditandai dengan ketidaksiapan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain; keengganan melakukan introspeksi (muhasabah); serta sibuk melihat aib dan kesalahan orang lain tanpa mau melihat aib dan kekurangan diri sendiri.

Padahal, kebaikan hanya bisa terwujud manakala seseorang bersikap rendah hati (tawadu); mau menyadari dan mengakui kekurangan diri; melakukan introspeksi; serta siap menerima kebenaran dari siapa pun dan dari mana pun. Sikap seperti ini sebagaimana dicontohkan oleh orang-orang mulia dari para nabi dan rasul.

Nabi Adam AS dan Siti Hawa saat melakukan kesalahan dengan melanggar larangan Tuhan, alih-alih sibuk menyalahkan iblis yang telah menggoda dan memberikan janji dusta, mereka malah langsung bersimpuh mengakui segala kealpaan seraya berkata, "Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS Al-A'raf [7]: 23).

Demikian pula dengan Nabi Yunus AS saat berada dalam gelapnya perut ikan di tengah lautan. Ia tidak menyalahkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri, seraya terus bertasbih menyucikan Tuhan-Nya. Ia berkata, "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesunguhnya, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS Al-Anbiya [21]: 87).

Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membaca istigfar dan meminta ampunan kepada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran yang paling tinggi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, ia harus selalu melakukan introspeksi. Beliau bersabda, "Wahai, manusia, bertobatlah dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sebab, aku bertobat sehari semalam sebanyak seratus kali." (HR Muslim).

Begitulah sikap arif para nabi yang patut dijadikan teladan. Mereka tidak merasa diri mereka sudah sempurna, bersih, dan suci. Allah SWT berfirman, "Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS Annajm [53]: 32).

Karena itu, daripada mengarahkan telunjuk kepada orang, lebih baik mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri. Daripada sibuk melihat aib orang, alangkah bijaknya kalau kita sibuk melihat aib sendiri. Dalam Musnad Anas ibn Malik RA, Nabi SAW bersabda, "Beruntunglah orang yang sibuk melihat aib dirinya sehingga tidak sibuk dengan aib orang lain."

------~~~~* HIDUP LAMA ATAU HIDUP BARU? *~~~~-------


“Taubat itu wajib bagi seseorang. Tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa..
Perjalanan waktu ini sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu..
Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit tapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit lagi akibatnya..
Semua yang bisa dicapai itu dekat, tapi kematian lebih dekat lagi dari semuanya.”
(Ali bin Abi Thalib)

Hidup hanyalah kesempatan untuk memilih. Mau diwarnai putih,abu-abu atau hitam sekalipun.
Segalanya bergulir dan digilirkan..Semua fana..Semua pasti berhenti dan berakhir.
Ketika itulah kehidupan dunia akan digantikan dengan kehidupan akhirat. Dan saat itulah dinamika dan gerak hidup berakhir.

Rasulullah dalam hadits shahih menyebutkan,“Orang yang pandai itu adalah orang yang dapat menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan nafsunya dan mengharap dari Allah agar angan-angannya terwujud.” (HR Imam At-Tirmidzy, Imam Ahmad, Imam Al-Hakim dan Imam Ibnu Majah).

Hidup ini pasti berakhir. Sepanjang apapun masa lalu kita. Dalam sisa umur yang entah masih berapa, tiada yang lebih indah selain merasakan manisnya iman. Dalam paduan rasa syukur dan permohonan ampun padaNya.

Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Setiap kali pagi datang, hal yang pertama kita pancangkan adalah deklarasi kebaikan.

Ya..Kita harus bangun,bergegas dan bersegera membayar kesalahan-kesalahan dengan amal kebaikan.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan yang panjang dan berliku. Tempat setiap orang menggantungkan harapannya.

Kesenangan dan keinginan hidup itu adalah fitrah.
Tetapi pada kenyataannya.. banyak keinginan yang melampaui batas kebolehannya.
Yang lebih menakutkan lagi, banyak yang melanggar dari batas kehalalannya.

Tinggal terserah kita mau memulai Hidup Baru meraih ampunanNya dan beroleh kasih sayangNya..

Atau

Tetap melanjutkan Hidup Lama dalam dosa yang terbungkus kesenangan kita tanpa menghiraukan saat datang ‘undanganNya’?

Semoga bermanfaat untuk kita semua

LARANGAN MEMUJI BERLEBIHAN.


Dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dia berkata: Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam maka beliau bersabda:

وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: Aku mengira dia seperti itu dan Allahlah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah.” (HR. Muslim no. 3000)

Maksud kalimat ‘kamu telah memenggal leher temanmu’ adalah kiasan dari mencelakakan.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar seseorang memuji temannya dan berlebihan dalam memujinya maka beliau bersabda:

لَقَدْ أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ – الرَّجُلِ

“Sungguh kamu telah mencelakakan -atau mematahkan punggung- lelaki itu.” (HR. Muslim no. 3001)

Kalimat ‘mematahkan punggung’ adalah kiasan dari mencelakakan.
Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu anhu dia berkata:

أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.” (HR. Muslim no. 3002).

Penjelasan ringkas:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang berlebihan dan kelewat batas dalam memuji karena hal itu akan menimbulkan fitnah dan membahayakan orang yang dipuji. Dia akan merasa tersanjung yang kemudian akan melahirkan ‘ujub (berbangga diri), lalu akan melahirkan kesombongan, lalu akan melahirkan sikap memandang rendah orang lain, dan pada akhirnya akan menganggap semua tindakannya adalah kebenaran, wal ‘iyadzu billah, dosa besar yang melahirkan dosa besar berikutnya. Karenanya, selain melarang orang yang memuji untuk memuji berlebihan, Nabi shallallahu alaihi wasallam juga memerintahkan kepada yang dipuji untuk melindungi dirinya dari semua bahaya tersebut, yaitu dengan cara melemparkan tanah kepada orang yang berlebihan dalam memujinya agar dia berhenti dan tidak mengulanginya.

Tapi semua ini bukan berarti Islam melarang memuji orang yang pantas untuk dipuji. Karenanya kalaupun seseorang itu harus atau patut memuji orang lain maka hendaknya dia mengucapkan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abu Bakrah di atas.

Ustadz Hammad Abu Mu'awiah

Semoga bermanfaat dan menambah wawasan dan inspirasi bagi kita

Anak Perempuan 3 Tahun Nigeria, Penghafal Qur'an Termuda di Dunia.


Seorang anak perempuan berumur tiga tahun di Nigeria telah menghafal seluruh ayat Al-Quran, menjadi salah satu penghafal Quran termuda di dunia.

Rukkayatu Fatahu Umar, telah menjadi hafizhah di usia tiga tahun delapan bulan, di saat kebanyakan anak-anak sebayanya baru belajar mengenal huruf dan angka.

“Jujur saja, Saya tidak bisa berkata-kata banyak, tetapi Saya sangat bersyukur kepada Allah,” kata Sayyada Maimunatu Sheikh Dahiru, ibu hafidzah kecil itu, kepada Sunday Tribune pada Senin (10/1/2013), dilansir Onislam.

“Ini sungguh berkah dari Allah. Saya bersyukur pada Allah atas karunia ini.”

Gadis kecil tersebut mulai menghafal Quran di sekolah Islam yang didirikan oleh Syeikh Dahiru Usman Bauchi.

“Pada saat itu, Saya selalu membawanya di punggung saya ketika sedang mengajar. Dari sini, ia mulai membaca bersama para siswa dan tak lama, ia telah menghafal beberapa ayat,” kata Maimunatu yang menjadi guru di sekolah tersebut.

“Itulah bagaimana ia mulai menghadiri kelas Tahfidz. Sekarang, ia telah benar-benar menghafal seluruh Quran,” tambahnya.

Rukkayatu, meskipun fokus menghafal Quran tetapi ia masih memiliki kesempatan bermain layaknya anak-anak lainnya. Tetapi ia lebih sering bermain bersama anak-anak penghafal Quran.

“Bukannya seolah-olah ia tidak bermain dengan kawan-kawannya. Ia bermain, terutama dengan mereka yang sedang menghafal Quran sepertinya,” kata ibunya.

“Ini membuat lebih mudah bagi mereka, karena fokus dan perhatian diarahkan menuju pencapaian cita-cita yang sama, yaitu menghafal Al-Quran.”

Rukkayatu beryukur kepada Allah atas karunia menghafal Al-Quran ini.

“Saya berterimakasih kepada Allah,” katanya.

Gadis kecil ini sekarang sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke sekolah, lebih cepat dari tradisi keluarga yang biasanya mengirim anak mereka ke sekolah pada usia sepuluh tahun.
"

‎.::NIKMATI saja HIDUP ini::.


‎Nikmati saja hidupmu, wahai sahabat…
Usahlah engkau bersedih dan mengeluh,
engkau di dunia ini tak akan selamanya,
esokpun engkau akan berpulang,

kembali padaNya... menemuiNya,

Usah engkau risaukan duniamu,
akhirat yang abadi lebih mulia,
bersiaplah engkau untuknya,

Tak perlu banyak bicara,
lakukan saja yang engkau bisa,
ada Dia yang selalu melihatmu,
ada Dia yang selalu mendengar doa-doamu,
ada Dia yang setia menemanimu,

Yakinlah, engkau tak pernah sendiri lagi,
engkau bahagia bersamaNya, bukan?

Rasakanlah kehadiranNya yang setiap saat dekat denganmu,
bahkan ia lebih dekat dari urat nadimu sekalipun,

Lalu...Apalagi alasanmu untuk bersedih?
Apa lagi alasanmu untuk dapat menumpahkan keluhmu?
Apa lagi alasanmu untuk pamerkan kecengenganmu?
Apa lagi alasanmu untuk tidak berbuat, saat kesempatan berbuat begitu luas terbuka?
ia ada untuk engkau isi,
kesempatan itu untuk engkau taklukkan,

So, jangan pernah ragu lagi,
engkau sudah sangat kuat bersamaNya,
engkau sangat luar biasa dalam bimbinganNya,
engkau mampu taklukkan egomu,
engkau mampu runtuhkan kelumu,
engkau mampu robohkan karang kesombonganmu itu,
engkau mampu berlemah lembut,
engkau bisa berkasih sayang,
engkau akan selalu memiliki jiwa yang lapang,
untuk kembali menerbitkan senyumanmu,
senyuman terindah yang engkau miliki,

Yakinlah bahwa engkau mampu,
maka engkau benar-benar mampu, wahai sahabatku…

Semangat berjuang!
gigih berdoa,
jangan pernah engkau lupa, ada Dia bersamamu,

Semoga engkau selalu ingat,
ada yang mengharapkan kebaikan-kebaikanmu,
kenanglah saat-saat engkau menderita,
maka engkau akan mampu berbagi di saat bahagiamu
sumbangkanlah walau sepotong senyumanmu,
sampaikanlah walau sebait nasehatmu,
bagilah walau satu kata motivasimu hari ini,
maka engkau akan bahagia…
"

EMBER BOCOR YANG JUSTRU BERMANFAAT


Dikisahkan, ada seorang pekerja yang tinggal di rumah sederhana dengan sumurnya yang bermata air jernih, bersih dan segar. Dia bekerja sebagai pengambil air. Tugasnya adalah memenuhi bak air untuk kebutuhan di rumah majikannya.

Dengan pikulan dan ember kayu di kiri kanan tubuhnya, setiap hari dilaluinya jalan sepanjang satu kilometer. Sayangnya satu ember utuh, ember yang lain bocor—ada beberapa lubang kecil di sana. Dengan ember yang utuh, air sampai ke tujuan dengan utuh pula. Sedang ember yang bocor, sampai di tujuan hanya tersisa setengah ember air saja. Si ember utuh merasa bangga sekali dengan hasil kerjanya, sedangkan si ember bocor semakin lama merasa semakin frustasi.

Dia pun berkata kepada si pekerja, “Tuan, saya merasa sedih dan malu sekali. Saya ingin minta maaf...”

“Kenapa kamu merasa malu?” Tanya tuannya.

“Selama saya disini, saya cuma bisa menyumbangkan setengah ember air ke rumah majikan. Gara-gara saya, mesti tuan telah bekerja keras tetapi hasilnya tidak seimbang dengan tenaga yang tuan keluarkan.” Tukang air terdiam menyimak kata-kata si ember bocor sebelum menjawab, “Di perjalanan pulang nanti, perhatikanlah baik-baik tepian jalan berbunga yang setiap hari kita lalui.” Saat perjalanan pulang, si ember bocor pun memperhatikan tepi jalan yang mereka lewati.

Di bawah sorot hangat sinar matahari, bunga-bunga beraneka warna tumbuh berkembang dis epanjang jalan. Melihat pemandangan yang indah itu, si ember merasa terhibur hatinya. “Lihatlah bunga-bunga yang tumbuh di sisi sebelahmu dan tidak tumbuh di sisi ember utuh. Itu karena saya sengaja menabur benih kembang di sisimu dan kamu yang menyirami setiap hari kita melewati jalan ini. Indah sekali kan? Bunga-bunga itu kupetik untuk dipajang di rumah majikan kita, juga kuberikan untuk kekasihku, dan dia pun semakin sayang kepadaku. Kalau tidak ada kamu, rumah majikan tidak akan seindah itu dan cintaku pun tidak akan semesra ini. Ha ha! Aku lah yang seharusnya berterima kasih kepadamu!” kata si tukang air panjang lebar, dengan riang.

Mendengar semua perkataan itu, si ember bocor merasa senang dan bersyukur karena ternyata walaupun dirinya tidak utuh lagi tetapi masih bisa berguna dan membahagiakan orang.

Sumber : Andrie Wongso
"

Rabu, 06 Maret 2013

Mengapa Rasulullah menangis dalam sholatnya



==============================

Pernahkah kita berdialog dengan Allah swt ? Mengapa Rasulullah saw menangis dalam shalatnya?
Nabi saw bersabda,’Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Aku membagi shalat antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian dan bagi hambaKu itu apa yang ia minta".

Tahukah saudaraku bahwa Allah menjawab apa yang kita katakan didalam sholat kita :

Kita mengucapkan :"Alhamdulillahirabbil ‘alamin"
Allah menjawab : "HambaKu sedang memujiKu".

Kita mengucapkan : "Arrahmanirrahim
Allah menjawab :"HambaKu sedang menyanjungKu".

Kita mengucapkan : "Malikiyaumiddiyn".
Allah menjawab: "HambaKu telah memuliakan Aku".

Kita mengucapkan : "Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in".
Allah menjawab :"Ini antara Aku dan hamba-ku setengah-setengah dan bagi hamba-ku itu apa yang ia minta".

Kita mengucapkan :"Ihdinash shirathal mustaqiym shirathalladziyna an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuwbi ‘alaihim walad dhaalliyn"

Allah menjawab :"Ini semua untuk hamba-KU dan bagi hamba-Ku ini berhak atas apa yang ia minta"

(Hadist H.R. Muslim)

Lalu mengapa, kita seolah-olah tidak memberi kesempatan Allah untuk menjawab apa yang kita ucapkan. Didalam sholat, kita tidak pedulikan Dia

kita nyerocos mengucapkan Al Fathihah agar cepat-cepat selesai ... sementara pikiran kita ada diluar sholat padahal kita ada didalam rangkulan-Nya.

Tidak ada sedikitpun rasa malu, tidak ada rasa hormat, sama sekali tidak ada rasa kasihan kepada Allah yang sangat ingin menjawab apa yang

kita ucapkan. Ketahuilah .... Dia sangaat .. ingin menjawab kita. Mungkin kita belum mengenal-Nya. Perkenalkan ! : Dia adalah Al Rauuf ( Maha Welas Asih ).

Dia Maha Belas Kasih. Dia adalah As Syakuur ( Maha Mensyukuri ). Dia berterima kasih, mensyukuri apa yang kita ucapkan tentang Dia.

Dia adalah Al Mujiib ( Maha Mengabulkan ). Dia kabulkan apa yang kita minta, kalau kita memberi kesempatan Allah untuk menjawab.

Dia adalah Al Waduud ( Maha Mencintai ). Mengapa seolah-olah kita tidak memberi kesempatan Allah untuk mencintai kita ?

Sungguh benar, apa kata Allah dalam Q.S An Nisaa 40 :"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada

kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar" .

Sungguh benar Rasulullah saw : "Berapa banyak orang yang sholat, namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah".

Untuk Nanti..


Bismillahirrohmaanirrohiim...

Ketika kita harus menangis,maka menangislah agar kita tahu dunia ini bukan hanya untuk tertawa...

Ketika kita ingin tertawa,maka tertawalah agar kita tahu betapa mahalnya nilai sebuah air mata...
...
Siapa yang bisa menduga hari esok?
Pastinya tidak ada yang tahu..
Hidup selalu menyimpan
perjalanan berliku...

Perjalanan yang terkadang membuat
kita bertanya dan meragu akan saat ini yang kita
lalui...
Tapi hidup juga ada kalanya membuat kita takjub
atas apa yang sudah dialami...

Air mata mungkin sempat menetes ketika menjalani hidup
ini, tapi senyum pun pasti pernah mengembang ketika
kegembiraan menyapa hati ini...
Atas semua yang sudah
terjadi, atas semua yang sudah terlewati...
Ya,
sesungguhnya itu adalah rahasia Yang Mahakuasa untuk
nanti...

Perlahan tapi pasti, kejadian-kejadian yang sudah kita
lalui itu adalah untuk nanti...

Mungkin berawal tidak
mengenakkan, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana
nanti akan berlanjut...

Orang bijak mengatakan, hidup itu adakalanya tidak
bisa memilih...
Perkataan itu benar adanya, ketika kita
renungkan, kita lahir ke dunia ini tanpa ada pilihan;
terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit
coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dan
sebagainya...

Di balik segala cita, di balik segala perasaan yang
melahirkan pertanyaan akan ada jalan yang kita tempuh..

Perlulah menjaga dengan meyakinkan diri itu dariNya
untuk diri kita bahwa semuanya untuk nanti yang akan
baik-baik saja...

Maka kokohkanlah keimanan saat perjalanan membuat kita
bertanya, saat membuat kita meragu dan kecewa itu ada

Yakinilah skenario Allah tengah
berlangsung untuk nanti...

Dan jadilah penyimak yang
baik dengan penuh sangka yang baik padaNya...

Tanamkan
dalam diri kita bahwa Allah Mahatahu yang terbaik bagi
hamba-hambaNya...

Memang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi
esok hari...

Man propose, God dispose. . :)

Kita hanya bisa
menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang
menentukan......

============@ @=============

===================================

"Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya
urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu
dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin.
Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka hal itu baik
baginya. Dan jika menderita kesusahan ia bersabar,
maka hal itu lebih baik baginya." (HR. Muslim)

Wallahu a'lam bishshawab
"

====MASALAH ITU MANIS====



Bismillahirrahmanirrahim,

Ketika kita ditimpa sebuah permasalahan, berarti Alloh mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Alloh ingin agar kita mendekat kepadanya. Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Alloh telah menyediakan untuk kita kemudahan. Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. al-Insyiroh: 5-6)

Ketika permasalahan datang menghampiri, jangan mengeluh di hadapan Sang Pencipta, jangan memberontak akan keputusanNya apalagi mengatakan bahwa Alloh tidak adil. Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketegaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap Dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.

Tanpa malam purnama takkan indah. Tanpa lapar nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya dingin air takkan memberi banyak makna. Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan masalah kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah.

Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa. Jika keluhan yang kita bina sengsara masalah akan selalu bertambah.

Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Masalah adalah cara proses pendewasaan. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa. Tanpa masalah kita takkan menjadi orang yang luar biasa.”Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan pilot yang handal.”

Di saat kita mencari solusi dalam suatu masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. maka, berbahagialah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan bijak, yaitu dengan tetap selalu bersandar akan keputusan Alloh yang maha adil setelah tawakal dilakukan.

Mari bersama taklukkan masalah…!

Selamat beraktifitas...