Tampilkan postingan dengan label Akhlakul Kharimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlakul Kharimah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Tanda Kecintaan Kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala


-AL-QUR'AN-
Senin,17 Juni 2013

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
[Surat Ali Imran ayat 31]

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!

Ayat ini mencakup beberapa hal penting:

1]. Allah menghukumi atas orang yang mengaku mencintai Allah, namun bukan dengan cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, maka dia adalah seorang pendusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaannya.

2]. Dengan mengikuti Rasulullah salallahu a'alaihi wasalam., maka dia akan mendapatkan cinta Allah kepadanya, yang mana hal itu lebih agung daripada cintanya kepada Allah.

Sebagian orang bijak yang alim berkata:
"Hal yang terpenting bukanlah kamu mencintai, namun yang terpenting adalah kamu dicintai."

3].Dengan mengikuti Rasulullah salallahu a'alaihi wasalam, maka dosa-dosa akan terampuni. Allah telah menyifati diri-Nya dengan sifat pengampun dan pengasih.
(Ibnu Katsir: 2/25)

SUBHANALLAH,RAIH AMAL SHOLEH SILAHKAN SHARE!

Sabtu, 20 Juli 2013

IkhLas

Assalamu'alaikum.

tingkatkan keikhlasan dan perbaiki niat dalam beramal sholeh.


Ikhlas dalam amalan merupakan tonggak utama dalam setiap amalan sholeh, Dalilnya, Allah berfirman: 


فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا


"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya". (QS. Al Kahfi : 110)


Ibnu Katsir berkata: ‘(Yaitu orang yang ) mengharapkan pahala, dan ganjaran dariNya, [فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا / hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh ] yaitu amalan yang bertepatan dengan petunjuk syariat, [ وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا / dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya ] yaitu amalan yang ditujukan untuk mendapatkan Ridha Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dua hal ini adalah dua syarat diterimanya amalan. Mesti murni karena Allah, lagi cocok dengan aturan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam". (Tafsir Ibnu Katsir : 5/205)


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.


وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ


"Dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi yang Dia kehendaki" (QS. Al Baqarah : 261).


Ibnu Katsir menjelaskan : "Berdasarkan keikhlasannya dalam beramal". (Tafsir Ibnu Katsir: 1/693)


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 


إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا


"Jika salah seorang dari kalian telah memperindah Islamnya, maka setiap kebaikan yang diamalkannya akan dicatat baginya dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat. Dan setiap kejelekan yang ia kerjakan akan dicatat baginya satu kejelekan semisalnya". (Shahih Al Bukhari (Fathul Bari: 1/100 hadits no: 42), Shahih Muslim : 1/118 no: 129)


Ibnu Rajab berkata tentang hadits di atas : "Pelipatgandaan kebaikan dengan sepuluh kali lipat pasti terjadi. Sedangkan tambahan yang lebih dari itu tergantung pada kebaikan nilai Islam seseorang, dan keikhlasan niatnya, serta urgensi dan keutamaan amalan tersebut"( Jami’ul Ulumi Wal Hikam : 1/213).


Sebagai pelengkap dalam menetapkan naiknya tingkatan amalan yang dibarengi kekuatan ikhlas, adanya beberapa nash yang menyatakan keutamaan amalan yang dilakukan secara tersembunyi dibandingkan amalan yang dilakukan di hadapan khalayak. Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman: 


"Jika kalian memperlihatkan sedekah maka itu baik. Dan jika kalian menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir, niscaya lebih baik …"(QS Al Baqarah: 271).


Ibnu Katsir berkata: "Dalam ayat ini terkandung petunjuk bahwa menyembunyikan sedekah lebih baik daripada memperlihatkannya. Sebab lebih jauh dari noda riya`. Kecuali bila dengan memperlihatkan saat mengeluarkan sedekah ada unsur maslahat yang pasti"(Tafsir Ibnu Katsir : 1/701).


"Adapun memberikannya kepada orang-orang fakir, jika dilakukan dengan cara tersembunyi mengandung beberapa manfaat, menutupi jati dirinya (pemberi sedekah) , dan tidak membuat malu si penerima di hadapan orang banyak, tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang sedang direndahkan kehormatannya, dan supaya orang tidak melihat bahwa tangannya sufla, juga agar orang tidak berkomentar dirinya (sang penerima) tidak ada harganya sama sekali sehingga mereka enggan untuk berinteraksi dan melakukan tukar-menukar dengannya. Ini adalah manfaat tambahan selain berbuat baik kepadanya dengan memberi sedekah, di samping penjagaan aspek ikhlas.


Hal ini berlaku pada ibadah yang sifatnya tathawu' (sunnah). 


Dari Bustham bin Huraits, ia berkata: ‘Adalah Ayyub pernah terharu (karena takut kepada Allah), sehingga air matanya keluar. Namun ia ingin menyembunyikannya. Maka ia memegangi hidungnya, bersikap seolah-oleh orang yang sedang mengalami influenza. Jika ia khawatir , air matanya semakin deras, maka ia beranjak pergi"(Dzammu Ar Riya` hlm. 180)


__________­_____________


• MARI JADI ORANG BAIK •


• JAGA IMAN - JAGA SHALAT - JAGA AKHLAQ - TUTUPLAH AURAT •


• follow twitter @QURANdanSUNNAH

Selasa, 16 Juli 2013

Ketika seorang musafir 'arif billah ditanya tentang asal-muasal dirinya,,
ia menjawab dengan ikhlas dan jelas...

Darimana anda datang??
MINALLAH,,, dari Allah,,,,

Akan Ke mana anda pergi???
ILALLAH,,, menuju Allah,,,

Bersama siapa anda pergi???
MA'ALLAH,,, bersama Allah,,,

Di jalan apa yang anda tempuh??
FI SABILILLAH,,, di jalan Allah,,,

Anda sebenarnya milik siapa??
INNA LILLAH,,, Kami sesungguhnya milik Allah,,,

Kepada siapa anda kembali??
ILAIHI ROJI'UN,,, KepadaNya (Allah) kami kembali,,,

Kepada siapa anda beriman???
AMANTU BILLAH,,,, Saya beriman kepada Allah,,,

Kepada siapa anda berserah diri??
ASLAMTU ILALLAH,,, Berserah diri kepada Allah,,,

Kepada siapa anda beribadah/mengabdi???
A'BUDULLAH,,, Saya mengabdi kepada Allah,,,

Kepada siapa anda mohon perlindungan????
A'UDZU BILLAH,,, Saa berlindung kepada Allah,,,

Kepada siapa anda tawakal???
TAWAKALTU 'ALALLAH,,, Bertawakal kepada Allah,,,

Atas nama siapa anda beramal kebajikan??
BISMILLAH,,, Atas nama Allah,,

Kepada siapa anda bersyukur??
ALHAMDULILLAH,,, Segala puji bagi Allah,,,

Untuk siapa anda hidup???
LILLAH,,, Untuk Allah,,,

Dari mana datangnya rahmat dan hidayah???
MIN 'INDILLAH,,, dari sisi Allah,,,

Dalam hidup, apa yang sebenarnya anda cari??
MARDHATILLAH,,, Saya mencari Ridha Allah,,

Senin, 15 Juli 2013

*Definisi sabar*



Saya itu kadang tergoda menulis definisi. Padahal itu tidak baik. Selalu lebih baik menyampaikan sesuatu lewat cerita, simbol, kiasan, lantas membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri definisinya.

Apa itu sabar? Sabar adalah.... Nah, kan, saya lagi2 tergoda untuk menulis definisi.

Baiklah, akan saya jelaskan saja dengan cerita.

Seorang remaja disuruh Ibunya menunggu di pintu pasar, sementara Ibunya akan berbelanja di dalam selama empat jam. Maka apa itu sabar?

1. Si remaja menunggu empat jam, tidak beranjak dari pintu pasar, hingga Ibunya datang. Satu dua dia mengeluh, aduh, alangkah lamanya Ibu. Bertahan lagi. Tergoda hendak duluan pulang. Bertahan lagi. Mengeluh lagi, aduh, apa sih yang Ibu beli. Tapi syukurlah meski berkali2 tergoda, mengeluh, dia tetap di pintu gerbang itu selama empat jam.

2. Si remaja menunggu empat jam, tidak beranjak dari pintu pasar, hingga Ibunya datang. Tidak sekalipun dia tergoda, tidak sekalipun dia mengeluh. Dia sungguh yakin, Ibunya akan muncul setelah empat jam berlalu, dan mereka bisa pulang bersama. Selesai. Keren sekali, empat jam yang hebat. Si remaja berdiri gagah di pintu gerbang, tersenyum yakin.

3. Si remaja menunggu empat jam, tidak beranjak dari pintu pasar, hingga Ibunya datang. Aduhai, dia tidak sekali tergoda, tidak sekalipun mengeluh, yakin Ibunya akan muncul, dan tidak hanya itu. Dia memutuskan diri untuk menyibukkan diri di pintu pasar itu. Ada nenek2 repot membawa belanjaan ke atas becak di pintu gerbang, dia bantu dengan sukarela. Ada anak-anak yang tersesat, ditinggal orang tuanya, dia bantu lapor ke petugas keamanan di pintu gerbang. Bahkan dia sempat belajar memperhatikan bagaimana pedagang dawet yang mangkal di sebelahnya. Jadi tahu bagaimana tips membuat dawet yang enak. Juga bercakap-cakap dengan pedagang lain. Mencatat banyak hal dalam pikiran. Empat jam berlalu tidak terasa, banyak sekali kebajikan dan ilmu bermanfaat yang diperolehnya, hingga Ibunya keluar dari pasar.

Nah, apa itu sabar? Sabar adalah.... Tidak. Tidak my dear anggota page; kalianlah yg seharusnya menemukan definisi2 itu. Dengan memperhatikan, dengan mengamati, dengan mendengarkan nasehat2 yang baik. Dipikirkan, direnungkan. Maka, mau seperti apa orang lain mendefinisikan sesuatu--dalam hal ini definisi sabar, kalian memiliki versi sendiri yang kalian yakini, lantas gunakan dalam hidup keseharian. Itulah sebenar2nya definisi.

Dan itulah juga yang selalu disebut: pemahaman yang baik.

*tere lije, repos


Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan berkah di dalamnya…

Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alayhi Wa sallam adalah Rasul dan hambaNya. Amma ba’du …

Pembicaraan kita hari ini dengan tema : “ Bagaimana kita belajar diam ” Sebagian orang mungkin heran, apakah diam harus dipelajari?

Yang dimaksud dengan belajar adalah praktek latihan, mengasah dan menjadikan tradisi. Judul ini saya ambil dari perkataan sebagian salaf. Ketika mereka berkata : “ kami belajar diam sebagaimana kalian belajar berbicara“, sekarang ini banyak dilakukan kursus training seni berbicara, seni berpidato dan juga seni bagaimana mempengaruhi orang lain. Namun pada pertemuan ini, kita membahas – Insya ALLAH – bagaimana kita belajar diam. Yang saya maksud bukan diam dari kebenaran, Naudzubillah … atau diam dari amar ma’ruf nahi munkar atau diam dari menasehati manusia atau diam dari mengarahkan dan memberi petunjuk kepada mereka … bukan sekali-kali bukan !!! yang aku maksud adalah diam dari senda gurau, diam dari kata-kata bathil diam dari katanya dan katanya …serta perkataan yang tidak ada faedahnya baik bagi diennya maupun dunianya.

Rabb kita Azza Wa Jalla telah mensifati orang beriman dalam kitabNya yang mulia :

” Sungguh beruntung orang orang yang beriman. Yaitu orang yang khusyu’ dalam sholatnya dan orang yang menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan ) yang tidak berguna ( Al Mu’minun 1-3 )

Allah Azza Wa Jalla memuji orang-orang beriman yang menjauhi senda gurau . senda gurau disini adalah perkataan bathil. Dan Nabi Shallallahu Alayhi Wa Sallam bersabda : “ Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir maka hendaknya berbicara yang baik atau diam” Perhatikanlah wahai ikhwah … Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam mengaitkan diam dengan permasalahan aqidah yakni iman kepada Allah dan hari akhir. Aqidah yang dikaitkan dengan persoalan diam. Allah Azza Wa Jalla juga berfirman : “ Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap ( mencatat ) ” ( Qoof 18 ).

Ada Tiga permasalahan yang akan kita bahas dalam majelis kita, walau sebenarnya banyak permasalahan dalam tema ini, namun dalam pertemuan ini kita hanya akan membahas 3 perkara.

Masalah pertama : Bahwa kita tidak mengenal kalimat ” Allahu A’lam” dalam majelis kita. Kita dapati dalam majelis kita yang membicarakan banyak bidang, yakni bidang syar’i, kedokteran, politik dan segala bidang lainnya, seseorang berkata “ ini pendapatku” yang itu berkata “ saya kira ” dan yang ini berkata “ yang saya yakini” dia tidak tahu kalimat “ Allahu A’lam ” bahkan kalimat Allahu A’lam termasuk aib sebagaimana sebagian orang berkata demikian. Padahal sebagian salaf berkata “ Allahu A’lam adalah setengah ilmu“

Masalah kedua : yaitu dalam majelis, tidak ada sifat “ diam dengan baik ” kepada orang lain. Ada perbedaan antara “ diam” dengan “ diam yang baik ”, masing-masing kita tidak punya sifat diam yang baik kepada orang lain. Baik orang lain itu anak kecil, orang bodoh atau bahkan wanita !!! ketika misalnya berbicara dengan isterinya kita lihat tidak kita dapati sifat diam yang baik, yakni ia malah sibuk dan tidak memperhatikan. Kita tidak memperhatikan atau mendengar kepada orang lain kecuali kepada orang tertentu saja. Kepada orang yang punya gelar, kedudukan, memiliki posisi social, kita akan diam dengan baik, ini semua akibat tidak mempelajari sifat diam.

Masalah ketiga yang kita bahas di majelis ini bahwa sebagian orang yang diuji, ia senang jika ia duduk di suatu majelis, dia merasa senang jika 70 % atau 80 % dari majelis semuanya memperhatikannya, dia yang harus menyampaikan, mengemukakan dan yang menilai, ia senang jika semua orang di majelis memberikan perhatian kepadanya. Hal Ini termasuk kesalahan, walaupun orang ini misalnya syaikh dan alim jika ia memberi nasehat, bimbingan dan menjawab pertanyaan terkadang bisa diterima. Akan tetapi jika ada seseorang yang tidak tahu terhadap sebuah ilmu atau kurang pengalaman dan yang lain, begitulah dia ( yakni tidak ada perhatian )

3 permasalahan ini adalah pengaruh dari tidak belajar diam, termasuk renungan kita bersama pada pertemuan ini adalah keseimbangan iman bukan keseimbangan olah raga fisik. Perhatikan keseimbangan tentang ini .. ! keseimbangan ini saya kumpulkan dari perkataan para ahli hikmah yaitu 7 hikmah dari hikmah yang terbaik dalam bab ini, yaitu bab diam.

Hikmah pertama : “ Barangsiapa yang banyak bicaranya banyak pula dosanya“. Yaitu jika manusia semakin banyak bicara maka akan menyebabkan ia kepada dosa. Dan begitu juga sebaliknya, jika engkau sedikit bicara maka engkau sedikit pula dosanya.

Hikmah kedua : “ Barangsiapa yang sempit hatinya maka akan leluasa lisannya” sebagian orang yang hati dan dadanya sempit, maka kamu dapati lisannya leluasa mencela, menyakiti, mentalak, melaknat dan menuduh orang lain begitu juga sebaliknya “ barangsiapa yang luas hatinya maka akan sempit lisannya ( tidak banyak bicara ) ”.

Hikmah yang ketiga : ” barangsiapa yang sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat maka ia akan kehilangan hal yang bermanfaat” artinya kita dapati sekarang ini manusia sibuk dengan melihat acara-acara media yang rusak dan membaca majalah-majalah lucah, barangsiapa yang melakukannya maka ia terhalang dari banyak sekali ketaatan dan ibadah.

Hikmah keempat : mereka ahli hikmah berkata : “ barangsiapa yang banyak akalnya maka sedikit bicaranya dan barangsiapa yang sedikit akalnya maka banyak bicaranya” SubhanALLAH, ungkapan ini, tentu engkau dapati orang yang paling sedikit berkata : ” katanya dan katanya ” mereka ini adalah ahli ilmu sedangkan orang-orang yang banyak mengatakannya adalah orang bodoh.

Hikmah kelima : para ahli hikmah sepakat bahwa “ kunci utama hikmah adalah diam” ini tidak perlu lagi ada penjelasan.

Hikmah keenam : para ahli hikmah ditanya tentang sifat pencela. Siapakah pencela ? mereka menjawab : “ jika tidak ada orangnya ia mencelanya dan jika ada maka ia akan menggunjing orang lain“ ini adalah sifat yang aneh!!! Jika ia jauh darimu, ia mencelamu, dan jika engkau ada maka ia menggunjing yakni menggunjing orang lain, sehingga kamu tidak selamat darinya dan orang lain pun tidak akan selamat darinya.

Hikmah ketujuh ( terakhir ) : para ahli hikmah berkata : “ barangsiapa yang sibuk dengan keadaan orang lain maka keadaan dirinya akan hilang ” engkau dapati sebagian orang berkeinginan besar untuk menjadi yang menjadi pertama kali tahu tentang kabar berita orang lain, jika ia mengikuti kabar manusia untuk kemaslahatan atau untuk faedah maka bisa diterima, namun begitulah, ia senang apa ? senang bertanya apa yang dilakukan si fulan ? apa yang dikerjakan si fulan ? lalu apa yang terjadi ? maka yang terjadi adalah keadaan dirinya hilang yakni ia tidak melihat keadaan dirinya, keadaan pribadinya dan tentang aib-aibnya.

Termasuk renungan yang perlu kita renungkan bersama dalam pertemuan ini adalah tema, “ bahasa diam dalam dunia wanita ” dunia wanita sekarang adalah dunia yang mengherankan dan aneh, mereka tidak tahu diam, wanita dalam majelis tidak tahu bahasa diam padahal diam itu bermanfaat dan berfaedah, tentu pertama mereka membicarakan tentang makanan, kemudian tentang sesuatu yang lain, kemudian tentang dunia pernikahan kemudian masalah pengasuh anak, lalu tenang dunia anak-anak, artinya dalam suatu majelis para wanita ini biasa membahas 32 tema masalah dan idak mendapatkan faedah atau hasil apapun. Diantara pemahaman yang salah, dan ini satu perenungan juga bahwa sebagian orang yang selalu melihat kepada orang yang lebih mengutamakan diam atau orang yang tidak pandai bicara dengan orang lain yakni orang melihatnya dengan pandangan negative, cela dan memiliki kekurangan, padahal ini bukanlah sebuah aib !!! … maaf, orang yang tidak pandai atau banyak bicara bukanlah aib !!! tetapi yang aib adalah jika seseorang banyak berbicara, Nampak apa ? kesalahannya.

Sekarang wahai saudara-saudara yang mulia … kita bahas tentang langkah apa yang harus ditempuh ? atau bagaimana kita belajar diam secara praktek, bukan hanya secara teori, bukan ! tapi secara praktek. Langkah pertama dalam metode belajar diam adalah :

Pertama : merasa malu kepada Allah Azza Wa Jalla … demi Allah, wahai saudara-saudaraku yang mulia alangkah indah dan mengagumkannya bahwa seseorang merasakan dalam hatinya, keyakinan rasa malu kepada Allah dalam perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, tindak tanduknya dan seluruh keadaanya. Demi Allah yang tiada Ilah kecuali Dia seandainya manusia merasakan keyakinan rasa malu kepada Allah maka Demi Allah … ia akan merasakan kelezatan, kesenangan, kebahagiaan dan ketenangan.

Berapa banyak perkataan yang kita ucapkan, tetapi tidak keluar dari hati kita. Malu kepada Allah, seorang hamba yaitu dengan apa ? malu jika batinnya tidak sesuai dengan dhahirnya, engkau dapati jika ia sendirian, ia bermaksiat kepada Rabbnya Azza Wa Jalla dan jika ia bersama manusia, ia nampak orang baik dan bertaqwa. Seorang hamba patut malu kepada Allah, bahwa Allah melihatmu sedangkan engkau sholat, jasadmu bersama ALLAH, sedangkan hati bersama makhluk, bersama dunia … Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah … Sungguh indah seseorang yang malu kepada Allah hingga dalam perkataan dan ucapannya, bagaimana ketika Allah melihatmu sedang saat itu kita kata melafadzkan kalimat yang tidak diridhoi Rabb kita Azza Wa Jalla.

Sebagian salaf berkata, diantara tanda Al Maqt ( kemurkaan Allah ) tanda kemurkaan Allah atau penghinaan Alah kepada hambanya yaitu berbicara pada hal yang tidak bermanfaat. Ini termasuk tanda kemurkaan! Perhatikanlah ! hati-hatilah ! dan murka itu lebih keras daripada marah. Rabb kita Azza Wa Jalla berfirman : “ Wahai orang-orang yang beriman ! mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ( sangatlah ) besar murka Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ” Dan murka itu lebih keras dari marah.

Ini adalah faktor pertama, wahai saudara-saudaraku yang mulia bahwa langkah pertama yang dilakukan seseorang adalah selalu merasakan malu kepada Allah yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat Subhanahu Wa Ta’ala yang mana tidak ada sesuatupun yang tersembunyi padaNya, maka Anda harus merasa malu kepada Allah tatkala engkau berkata dengan kalimat-kalimat yang Allah Azza Wa Jalla tidak ridho dengannya, dan dimurkaiNya.

Kedua : termasuk langkah nyata dan sebab-sebab kita dapat mempelajari diam adalah jadikanlah ia kaedah atau ciri utama dalam kehidupanmu, pikirkanlah sebelum engkau berbicara, biasakan dirimu, latihlah lisanmu, memang lisan itu perlu latihan dan percobaan. Latihlah dirimu sebelum menyatakan persoalan apapun di suatu majelis atau kalimat apa saja, engkau memikirkan dahulu perkataan itu, pikirkan sebelum engkau apa ? sebelum engkau bicara ! sebagian orang ada yang pesimis dengan hal ini … ia berkata hal itu sulit, berat dan susah …ini hanya perlu berlatih, berlatih, dan berlatih lagi hingga selanjutnya mudah bagimu. Sedangkan kita dalam perkara dunia, sebelum maju melangkah dalam program-program dunia selalu berfikir dahulu, sebelum maju untuk menikah ia berfikir, bermusyawarah dan bertanya, sebelum ia ingin membeli rumah, sebelum berfikir untuk membeli mobil, sebelum maju untuk bekerja. Perkataan tentang dunia apa saja ia akan berfikir terlebih dahulu hingga tercapai dengan baik maka fikirkan sebelum engkau bicara!

Oleh karena itu sebagian ahli hikmah berkata : “ termasuk tanda kebodohan, perhatikan ! termasuk tanda kebodohan, adalah berkata pada hal yang tidak bermanfaat” termasuk tanda kebodohan adalah sifat ini. Engkau berkata pada hal yang tidak bermanfaat.

Banyak orang duduk dalam suatu majelis dan menghabiskan waktu 1 jam, 2 jam atau 3 jam, berbicara pada hal-hal yang tidak dapat menggemukkan dan tidak pula membuat kenyang ! ini termasuk sikap yang mengesankan, yaitu sikap tarbawiyyah ( pendidikan ) yang kita pelajari dari sikap ini. Diriwayatkan oleh sebagian orang sholeh bahwa ia hendak mentalak isterinya, ” berniat” mentalak isterinya, baru berniat saja lalu dikatakan kepadanya, apa yang membuatmu ragu dengannya ? mengapa engkau mentalaknya ? apa yang ia katakan ? maka apa yang ia katakan? ya akhi … Demi ALLAH kata-kata ini ditulis dengan tinta emas jadikanlah kalimat ini sebagai prinsip hidup. Orang sholeh itu berkata, dengarkan dan perhatikan !!! … ia berkata : ” orang yang berakal tidak akan membuka tabir rahasia isterinya “, dan ketika ia telah mentalaknya, mereka bertanya lagi, mengapa engkau mentalaknya ? ia menjawab : “ apa hubungannya diriku dengan wanita itu ? ia sekarang bukan tanggunganku lagi, apa hubunganku dengannya, saya tidak akan membicarakan orang lain.” Kita saat ini, memohon kepada ALLAH yang Maha Agung agar memaafkan kita dan tidak menghukum kita serta merahmati kita seandainya ada salah seorang yang mentalak isterinya, maka ia akan langsung saja menceritakan seluruh hidupnya dari sejak malam pertama hingga 5-6 atau 7 tahun sepanjang sejarah hidup bersamanya.

Ketiga : termasuk langkah praktek – nanti kita cukupkan sampai empat langkah saja – adalah mempersedikit bergaul dengan manusia atau arti lain menyendiri yang syar’i.

Imam Ibnul Qayyim Al jauziyyah berkata : “ termasuk perusak hati adalah banyak bergaul dengan orang lain.” Tidak dibenarkan jika seseorang dari pagi hingga sore selalu bersama manusia. Selalu berbicara dengan manusia, ini tidak dibenarkan ! bagi seorang muslim minimal harus apa ? harus ada waktu menyendiri bersama Rabbnya dan di malam harinya juga ada waktu. Saya beri contoh kepada kalian, waktu antara maghrib dan isya banyak sekali masjid dan tidak ada seorangpun antara maghrib dan isya memiliki waktu, satu jam saja ! hanya antara maghrib dan isya engkau berdzikir kepada Allah, shalat, berisighfar kepada Allah, membaca buku yang bermanfaat dan berfaedah. Didiklah jiwamu, biasakanlah dirimu untuk menyendiri.

Ya … sebagian orang merasa sempit dadanya, merasa kesepian. Ia berkata : aku tak mampu untuk duduk sendirian, merasa sempit dan kesepian, kami katakan inilah penyakit pada kepribadianmu !!! dikatakan kepada salah seorang yang sholeh : tidaklah engkau kesepian ketika sendirian ? ia menjawab : “ bagaimana aku akan merasa kesepian ? sedangkan aku duduk bersama yang mengingatku ! ” Allah berfirman : “ Ingatlah aku maka aku akan ingat kalian ” Allah mengingatmu ! diriwayatkan dari sebagian orang sholeh bahwa ia berkata kepada sebagian para shahabatnya ketika mereka mengunjunginya dan ingin keluar darinya, ia mewasaiatkan kepada mereka kata-kata yang bagus dan mengagumkan, ia berkata jika keluar dariku maka berpisah-pisahlah kalian dan semoga salah seorang dari kalian ada yang membaca al-qur’an di tengah perjalanannya, membaca Alquran dan berdzikir kepada Allah.

Ya perbuatan berkumpul, selalu berkumpul dengan manusia mendorong untuk saling bercakap-cakap tapi ketika seseorang dalam sebagian waktunya menyedikitkan atau tidak berkumpul dengan manusia adalah bagus. Ia telah belajar berkaitan dengan mempersedikit bicara. Oleh karena itu engkau dapati sebagian orang jika ingin pergi dalam perjalanan panjang misalnya 1 atau 2 jam, ia akan menghubungi sebagian temannya dan berkata : maukah engkau pergi bersama menemaniku dalam perjalanan ? baiklah wahai akhi … gunakanlah waktu ini … engkau sibukkan dengan mengulang hafalanmu, berdzikir kepada Allah, merasa berdiri di hadapan Allah dan berdoa kepada Allah. Jelaslah bahwa masalah kita adalah kita tidak terbiasa menyendiri, kita tidak terbiasa menyendiri dalam waktu 1, 2 atau 3 jam saja. Kita cepat merasa dadanya sempit, merasa apa ? kesepian dan kesempitan.

Sebab terakhir yang membantu kita untuk diam adalah dengan memperbanyak berdzkir kepada Allah, Umar Bin Khottob berkata “ mengingat manusia itu penyakit dan mengingat Allah adalah obat ”.

Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Umar ia berkata kami menghitung Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam dalam satu majelis 100 x membaca “rabbighfirlii wa tub alayya innaka anta tawwaburrahiim ” dalam satu majelis ! engkau biasakan dirimu misalnya ketika pergi ke suatu majelis katakanlah pada dirimu sendiri : Aku tidak akan keluar dari majelis ini hingga aku mengucapkan ” Astaghfirullah ” 100 x dan bershalawat 10 x misalnya atau aku akan berkata ” SubhanALLAhul adzim subhanaALLAh wa bihamdih 100 x . program ini menjadikanmu apa ? engkau akan sedikit berbicara, ia akan mendidik dan membiasakanmu untuk diam.

Mengapa kita membahas tema ini wahai saudaraku yang mulia dalam akhir pertemuan ini. Hasil dan faedah kita membahas tema ini adalah bagaimana kita belajar diam. Hasil dan faedahnya besar sekali yaitu bahwa termasuk lurusnya hati adalah dengan menjaga lisan. Sebagian salaf berkata : “ jika engkau ingin hatimu baik, maka minta tolonglah dengan menjaga lisanmu. Maka minta tolonglah dengan menjaga lisanmu. ” Alangkah indah, bagus dan manisnya jika seseorang melatih dirinya sendiri. Kita memberi pelatihan kepada orang lain tapi apakah engkau sendiri juga berlatih ? dengan akhlaqmu, tingkah lakumu, lisanmu, engkau latih sendiri engkau ajari dan didik sendiri, aku tidak akan banyak bicara, aku tidak akan mengucapkan kata-kata, tema yang aku sampaikan, aku berusaha untuk menjaga kata-kata, mengendalikan lisan dan Allah akan menolong hambanya jika Dia melihat kejujuran darinya, sebagiamana perkataan Ibnul Qayyim : “ Jujurlah dalam mencari maka akan datang pertolongan kepadamu ” hikmah yang sangat mengagumkan!!!

Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia pemilik Arsy Yang Agung untuk memberi petunjuk kepadaku dan kalian kepada apa yang Allah cintai dan ridhoi dan akhir dakwah kami “ Alhamdulillah rabbil Aalamiin.”


(Oleh: Syaikh Abu Zaid Al-Kuwaity)

(gashibu.com/arrahmah.com)

Rabu, 15 Mei 2013

BERSYUKUR,KUNCI KEBERKAHAN HIDUP


Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri ...

Hidup akan lebih bahagia ..
kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki ..
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi ...

Bersyukurlah sahabat ..
Bersyukurlah bahwa kita belum siap
memiliki segala sesuatu yang kita inginkan ....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ..?

Bersyukurlah sahabat ..
Bersyukurlah apabila kita tidak tahu sesuatu ..
Karena itu memberikan kita kesempatan untuk belajar ....

Bersyukurlah sahabat ..
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ..
Karena Di masa itulah kita tumbuh …

Bersyukurlah duhai sahabat ..
Bersyukurlah untuk keterbatasan kita ..
Karena itu memberikan kita kesempatan untuk berkembang ...

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ..
Karena itu akan membangun kekuatan dan karakter kita masing-masing ....

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kita buat ..
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...

Bersyukurlah bila kita lelah dan letih ..
Karena itu kita telah membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat ...

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik …

Hidup dan berkah yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut …

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif

Via Allah Tujuanku

Semoga bermanfaat,silakan share semoga bermanfaat
dan menginspirasi dan menjadi renungan bagi sahabat yang lainnya.

Selasa, 14 Mei 2013

Ketabahan Para Rasul:


Suatu hari, setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah di kabilah Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal dan beliau diusir, beliau begitu berduka dan gundah.

Beliau berjalan gontai, hingga tiba di daerah Qarni Ats Tsa'alib.

Tiba-tiba beliau merasa ada awan yang menaunginya, sehingga beliau segera menengadah ke langit. Ternyata Malaikat Jibril menampakan dirinya dari balik awan dan segera menyapanya dan berkata:

Sejatinya Allah telah mendengar tanggapan dan sikap kaummu terhadap seruan dakwahmu.

Karena itu Allah mengutus Malaikat penunggu gunung untuk engkau perintahkan sesuka hatimu.

Segera Malaikat penungggu gunung menyapa aku daberkata: Allah telah mendengar tanggapan dan ucapan kaummu kepadamu, sedangkan aku adalah Malaikat yang ditugasi mengurusi gunung. Aku diutus untuk engkau perintahkan apa saja yang engkau suka. Bila engkau suka, niscaya aku akan timpakan dua gunung Akhsyabain kepada mereka.

Mendapat penawaran ini, Nabi tidak merendah diri dan tidak membalaskan perasaannya. beliau menunjukkan sikap seorang yang memiliki jiwa besar.

beliau lebih memilih untuk memaafkan dan kemberi tangguh. Bahkan beliau membalas kejelekan dengan kebaikan.

Beliau menjawab tawaran Malaikat Penunggu gunung dengan bersabda:
«بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
Tidak, bahkan Aku sangat berharap semoga Allah melahirkan dari mereka orang-orang yang akan beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. ( Bukhari & Muslim)

Begitu besar jiwa beliau, shallallahu alaihi wa sallam.

ketika usai dari perang Uhud, yang padanya beliau terluka di wajah dan daninya, beliau juga membuktikan kebesaran jiwanya.

Sambil mengusap darah dari wajahnya beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
Ya Allah, ampunilah ( jangan Engkau timpakan siksa yang membinasakan/beri tangguh) kaumku, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu.) Muttafaqun alaih)

Ya Allah, lapangkan dada kami untuk dapat meneladani akhlaq Nabi- Mu. Aamiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin badri

Semoga bermanfaat,silakan share semoga bermanfaat
dan menginspirasi dan menjadi renungan bagi sahabat yang lainnya.

Sabtu, 11 Mei 2013

Ketabahan Para Rasul:


Suatu hari, setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah di kabilah Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal dan beliau diusir, beliau begitu berduka dan gundah.

Beliau berjalan gontai, hingga tiba di daerah Qarni Ats Tsa'alib.

Tiba-tiba beliau merasa ada awan yang menaunginya, sehingga beliau segera menengadah ke langit. Ternyata Malaikat Jibril menampakan dirinya dari balik awan dan segera menyapanya dan berkata:

Sejatinya Allah telah mendengar tanggapan dan sikap kaummu terhadap seruan dakwahmu.

Karena itu Allah mengutus Malaikat penunggu gunung untuk engkau perintahkan sesuka hatimu.

Segera Malaikat penungggu gunung menyapa aku daberkata: Allah telah mendengar tanggapan dan ucapan kaummu kepadamu, sedangkan aku adalah Malaikat yang ditugasi mengurusi gunung. Aku diutus untuk engkau perintahkan apa saja yang engkau suka. Bila engkau suka, niscaya aku akan timpakan dua gunung Akhsyabain kepada mereka.

Mendapat penawaran ini, Nabi tidak merendah diri dan tidak membalaskan perasaannya. beliau menunjukkan sikap seorang yang memiliki jiwa besar.

beliau lebih memilih untuk memaafkan dan kemberi tangguh. Bahkan beliau membalas kejelekan dengan kebaikan.

Beliau menjawab tawaran Malaikat Penunggu gunung dengan bersabda:
«بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
Tidak, bahkan Aku sangat berharap semoga Allah melahirkan dari mereka orang-orang yang akan beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. ( Bukhari & Muslim)

Begitu besar jiwa beliau, shallallahu alaihi wa sallam.

ketika usai dari perang Uhud, yang padanya beliau terluka di wajah dan daninya, beliau juga membuktikan kebesaran jiwanya.

Sambil mengusap darah dari wajahnya beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
Ya Allah, ampunilah ( jangan Engkau timpakan siksa yang membinasakan/beri tangguh) kaumku, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu.) Muttafaqun alaih)

Ya Allah, lapangkan dada kami untuk dapat meneladani akhlaq Nabi- Mu. Aamiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin badri

Semoga bermanfaat,silakan share semoga bermanfaat
dan menginspirasi dan menjadi renungan bagi sahabat yang lainnya.

4 Sifat Teladan Ustad Jefri Al Buchori


Ustad Jefri al Buchori
mengembuskan napasnya
untuk kali terakhir Jumat
(26/4/2013) dini hari.
Kepergian dai yang akrab
disapa Uje ini meninggalkan sejuta kenangan indah di sisi
keluarga, sahabat, serta
muridnya.

Dorce Gamalama sebagai
sahabat Uje mengatakan sang
ustad tidak pernah membatasi
dirinya untuk bergaul dengan
siapa pun, sekalipun tidak
sepaham dengan Uje. Bunda Dorce begitu mengagumi
sosok Uje yang juga pekerja
keras dan ulet.

Ini 4 sifat Ustadz Jefry al
Buchori yang dapat dijadikan
panutan:

1. Taat Beribadah
"Setiap muslim atau muslimah
tentunya harus menjalankan
perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya. Tidak ada istilah
klise dalam dua hal tersebut. Uje adalah umat, pria, ayah,
suami, dan anak yang taat
beribadah. Insya Allah aku
tahu sahabatku ini tidak
pernah meninggalkan amalan
salat, zakat, dan yang lainnya."

2. Pekerja Keras nan Ulet
"Uje adalah pekerja keras
yang begitu menekuni
profesinya. Dia juga tidak
malu berdagang apa saja, yang
penting halal. Bagi Uje harta yang berlimpah tidak ada
artinya tanpa rida dari Allah.
Kita tidak mencari banyak
uang, tapi mencari
keberkahan rezeki. Aku salut
dengan sahabatku Ustad Jefri al Buchori."

3. Dermawan
"Uje itu nggak riya, kalau
memberikan bantuan kepada
orang lain yang
membutuhkan, dia nggak
akan bilang ke siapa- siapa, hal itu nggak diiklanin sama dia.
Uje benar-benar dermawan
sejati yang aku kagumi. Dia
juga suka kasih motor ke
penyandang cacat biar bisa
usaha dan mencari uang."

4. Pemaaf dan Penyabar
"Bunda nggak pernah melihat
Uje marah. Yang ada,
almarhum selalu istighar dan
bertasbih. Bunda yakin banget
kalau kita punya salah sama Uje, tanpa minta maaf pun dia
sudah memaafkan kita.
Apalagi Uje kan orangnya
sabar banget.

Ya Allah berikanlah tempat
yang terbaik bagi sahabatku
ini. Aamiin

#Beradab Sebelum Berilmu#


Seberapakah penting adab sebelum thalbul 'ilmu? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita dengarkan dan kita perhataikan nasehat sejumlah imam kita di bawah ini:

• Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi Al-Qurasyi –rahimahullah- mengatakan, “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

• Yusuf bin Al-Husain –rahimahullah- mengatakan, “Dengan adab ilmu akan difahami.”

• Abu ‘Abdullah Al-Balkhi –rahimahullah- mengatakan, “Adab ilmu itu lebih banyak daripada ilmu.”

• Al-Laits bin Sa’ad ketika mengawasi ahli hadits melihat sesuatu yang kurang menyenangkan di antara mereka, beliau pun mengatakan, “Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”

• Al-Khathib Al-Baghdadi melaporkan dari Malik bin Anas, beliau berkata, Ibnu Sirin berkata, “Mereka mempelajari petunjuk (baca: prilaku) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

• Dari Malik, dari Ibnu Syihab, bahwasannya beliau menyatakan, “Sesungguhnya ilmu ini merupakan adab Allah, dengannya Allah mengajari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adab, dan dengannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajari umatnya adab, amanah Allah kepada Rasul-Nya untuk ditunaikan sebagaimana yang disampaikan padanya. Maka siapa yang mendengar suatu ilmu, hendaknya ia menjadikannya sebagai hujjah di depannya antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.”

• Dari Ibrahim bin Habib, ia menceritakan, ayahku berkata padaku, “Wahai anakku, datangilah ahli fiqih dan ulama dan pelajarilah adab, akhlak, dan petunjuk dari mereka. Karena sesungguhnya yang demikian lebih kucintai darimu daripada kamu banyak meriwayatkan hadits.”

• Dari Ibnu Al Mubarak, Mukhallad bin Al-Husain berkata padaku, “Kami lebih membutuhkan adab daripada banyak meriwayatkan hadits.”

• Dari Zakariya Al-‘Anbari, bahwasannya beliau berkata, “Ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu bakar. Dan adab tanpa ilmu bagaikan roh tanpa jasad.”

• Diriwayatkan bahwa ibu Malik bin Anas menasihati anaknya, “Pergilah menemui Rabi’ah dan pelajarilah adab darinya sebelum mempelajari ilmunya.”

Renungan Al-Qur'an

Kamis, 04 April 2013

4 Sifat Nabi & Rasul - Shiddiq, Amanah, Fathonah, Tabliq


Para Nabi dan Rasul memiliki 4 sifat Wajib dan 4 sifat Mustahil, serta 1 sifat Jaiz:

1. Shiddiq (benar), mustahil ia Kizib (dusta). Ertinya, Nabi dan Rasul bersifat benar, baik dalam tutur kata maupun perbuatannya, yakni sesuai dengan ajaran Allah SWT. “Dan Kami menganugerahkan kepada mereka sebahagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia”.(QS.19/Maryam:50).

2. Amanah (dapat dipercaya), mustahil Khianat (curang). Ertinya, para Nabi dan Rasul itu bersifat jujur dalam menerima ajaran Allah SWT, serta memelihara keutuhannya dan menyampaikannya kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Mustahil mereka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah SWT.

3. Fathonah (pandai/cerdas), mustahil Jahlun (bodoh). Ertinya, para Nabi dan Rasul itu bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasannya. Dengan demikian mustahil mereka dapat dipengaruhi oleh orang lain.

4. Tabliq (Menyampaikan wahyu kepada umatnya), mustahil Kitman (menyembunyikan wahyu). Artinya, para Nabi dan Rasul itu pasti menyampaikan seluruh ajaran Allah SWT sekalipun mengakibatkan jiwanya terancam. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), “Sudahkah kamu masuk Islam ?”.

Jika mereka telah masuk Islam, niscaya mereka mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS.3/Ali Imrom: 20)
Satu sifat Jaiz para Nabi dan Rasul, yaitu Arodhul Basyariyah, ertinya mereka juga memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia pada umumnya, seperti ; makan, minum, tidur, sakit dan lain-lain sebagainya.
"

♥ Khusnudzon ♥


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

♥ Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka
yakinilah bahwa dia lebih baik dari dirimu. Ucapkanlah dalam hatimu:
“Bisa jadi kedudukannya di
sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”

♥ Jika bertemu dengan anak kecil, maka ucapkanlah
(dalam hatimu):
“Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan
diriku telah banyak
bermaksiat kepada-Nya.
Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”

♥ Jika bertemu orang tua,maka ucapkanlah (Dalam hatimu):
“Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku,
tentu dia lebih baik dariku.”

♥ Jika bertemu dengan orang
yang berilmu, maka
ucapkanlah (dalam hatimu):
“Orang ini memperoleh
karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan
pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui,
dan dia mengamalkan
ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”

♥ Jika bertemu dengan seorang yang bodoh,maka
katakanlah (dalam hatimu):
“Orang ini bermaksiat
kepada Allah karena dia bodoh (tidak tahu),sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku
mengetahui akibatnya. Dan
aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya
kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”

♥ Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah
(dalam hatimu):
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak. Bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan
beramal sholeh, dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”
—oo0oo—
(Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani)

♥ Ya ALLAH, Sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari akhlak,amal
perbuatan,dan keinginan (hawa nafsu) yang
cenderung ingkar(tercela).

♥ Aamiin Allahuma Aamiin ♥
"

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda


Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya.

Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu.

Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya.

Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya.

Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”

Peduli Antar Sesama/ EMPATI ♥


Dalam Islam, ternyata untuk menunjukkan kepedulian antar sesama muslim memiliki banyak cara:

1. Bisa membantunya dengan materi.

2. Bisa juga menolongnya dengan pengaruh dan kedudukan.

3. Bisa dengan fisik dan tenaga.

4. Bisa menyejukkan hatinya dengan untaian nasehat.

5. Bisa memberinya perhatian dengan doa dan istighfar.

6. Bisa juga dengan menunjukkan perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan saudaranya yang sedang berduka.

Namun semua itu bergantung kepada kekuatan IMAN, dimana semakin kuat keimanan seseorang, maka akan semakin tinggi semangat untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan demikian pula sebaliknya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah sosok manusia sempurna yang telah membuktikannya selama hidupnya terhadap seluruh sahabatnya.

Ternyata kekuatan untuk menjadi orang yang bermanfaat yang tulus terletak pada kekuatan ITTIBA' (mengikuti petunjuk) Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam.

Ya Allah...Yang membolak balikkan hati, teguhkan hati kami di atas kebenaran sehingga kami bisa tetap menjadi orang yang bermanfaat...

[Al-Fawaid hal. 248, karya Ibnul Qayyim]

Ustadz. Jazuli Lc,hafidzahullah.

Semoga bermanfaat dan menambah ilmu serta pemahaman serta Allah memberikan kekuatan kepada kita dalam mengamalkannya

Aamiin

Rabu, 03 April 2013

“RASULULLAH MENJAMIN SURGA"


Rasulullah Saw Bersabda ;
''Jaminlah untukku enam hal
darimu, aku jamin surga
untukmu :
1. Benar dalam bicara.
2. Menepati janji kepada Allah,
seperti shalat, zakat, puasa dan
lain-lain, serta janji pada manusia,
seperti nazar, sumpah, dan
sebagainya.
3. Tunaikan amanah.
4. Tutup aurat dan jaga
kemaluanmu.
5. Tahan matamu dari yang haram
(pornogarafi).
6. Jaga tangan, seperti memukul
bukan hak, menerima atau
memberi yang haram, menyentuh
yang bukan mahramnya.''
(HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan
Baihaqi).

"Allahumma ya Allah tanamkan di
hati kami kekuatan dan
keindahan iman, hiasilah hidup
kami dengan kenikmatan ibadah
dan kemuliaan akhlak, serta
selamatkan kami dari semua
fitnah dan keinginan maksiat.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin

✓ Meski kadang sudah menjadi sosok terbaik, namun tak selalu dipandang baik, maka janganlah berhenti berbuat baik...

✓ Jangan menilai seseorang dari fisiknya, percaya atau tidak? Wajah, harta, kekuasaan dan jabatan bisa menipu...

✓ Jadilah dirimu sendiri, temukan orang yang mencintaimu tak hanya dikala kamu 'di atas', bahkan ketika kamu jatuh 'di bawah'...

✓ Jangan mengatur orang lain, jika bahkan diri sendiri tak ingin diatur oleh orang lain. (Beda ceritanya kalau atasan mengatur bawahan, karena itu memang prosedurnya)...

✓ Nikmati hidup, jalani setiap hari dengan penuh syukur, maka senantiasa akan bahagia. (Tidak percaya? Cobain saja!)...

✓ Jangan jadi kacang lupa akan kulitnya, minum air harus mengerti asal sumber air, manusia juga harus ingat dari mana ia berasal...

✓ Manusia hidup dengan menatap ke depan, bagaimana waktu seharusnya berputar. (Tidak percaya? Lihat saja, sebagaimana manusia di ciptakan kakinya untuk berjalan maju bukan berjalan mundur)...

✓ Masa lalu perlu diingat sebagai bagian dari kenangan dan pembelajaran hidup, namun tak perlu disesali...

✓ Cantik dan tampan? Semuanya hanya khayalan belaka. Jangan terikat akan itu...

✓ Cintai pekerjaanmu maka kamu tak akan terbeban, senantiasa penuh sukacita, dan selalu bersemangat...

✓ Tanggung Jawab adalah kepercayaan. Terima dan jalankan dengan penuh kejujuran...

Semoga bermanfaat dan menginspirasi

# KETAWADLU'AN SEORANG IBNUL MUBAROK RAHIMAHULLAH #


Al Hasan Al Bashri pernah menceritakan mengenai Ibnul Mubarok. Suatu saat Ibnul Mubarok pernah datang ke tempat sumber air di mana orang-orang banyak yang menggunakannya untuk minum. Tatkala itu orang-orang pun tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarok. Orang-orang pun akhirnya saling berdesakan dengan beliau dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Tatkala selesai dari mendapatkan minuman, Ibnul Mubarok pun mengatakan pada Al Hasan Al Bashri, “Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati.” Lihatlah Ibnul Mubarok lebih senang kondisinya tidak tenar dan tidak menganggapnya masalah.

[ Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 284 dan 288] (dari Abu Fahmi Abdullah)

# Sekilas Tentang Abdullah Bin Al-Mubarak (118-181 H) #

Nama sebenarnya adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M.

Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan.

Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema “Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini.”

Ia wafat pada tahun 181 H di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat. (dari ahlulhadist.wordpress)

Via langkah menuju kebahagiaan

Selasa, 02 April 2013

Iman Pasti Melahirkan Amal Saleh


Iman selalu melahirkan amal saleh. Jika tidak, keimanannya palsu, karena –menurut jumhur ulama– iman itu bermakna “mengikrarkan dengan lisan, membebarkan dalam hati, dan mengamalkannya dengan anggota badan” (ikrarun bil lisan, tashdiqun bil qolbi, wa ‘amalun bir arkan).

Sejumlah ayat dan hadits berikut ini menyebutkan iman pasti melahirkan amal saleh, seperti shalat, zakat, sedekah, menolong sesama, menegakkan kebenaran Ilahi, dan mencegah kemunkaran.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah maka gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Anfal: 2-4).

“Iman itu 70 cabang lebih atau 60 cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan “laa ilaaha illallaah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim).

“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya (otoritas), jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Wallahu a’lam

Jumat, 22 Maret 2013

SIFAT-SIFAT TERPUJI MUKMININ



B I S M I L L A H
¸.•☆•.¸¸.•☆•.¸¸.•☆[GS]
1. Taubat ertinya meninggalkan segala perbuatan tercela yang telah dikerjakannya dengan niat kerana membesarkan Allah SWT. Orang yang bertaubat mestilah memenuhi syarat-syarat berikut:
a) Meninggalkan maksiat dengan kesedaran.
b) Menyesal dengan perbuatan yang telah dikerjakan.
c) Berazam tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

2. Khauf ertinya takutkan Allah SWT, takutkan kemurkaanNya dengan memelihara deen dan melakukan perkara-perkara yang ditegah.

3. Zuhud ertinya bersih atau suci hati dari berkehendakkan lebih dari keperluannya serta tidak bergantung kepada makhluk. Hatinya sentiasa mengingati bahawa harta yang dimilikinya adalah sebagai amanah dari Allah.

4. Sabar ertinya tabah atau cekal menghadapi sesuatu ujian yang mendukacitakan.

5. Syukur ertinya menyedari bahawa semua nikmat yang diperolehinya baik yang lahir mahupun batin semuanya adalah dari Allah SWT dan merasa gembira dengan nikmat itu serta bertanggungjawab kepada Allah SWT.

6. Ikhlas ertinya mengerjakan amal ibadat dengan penuh ketaatan serta semua perbuatan yang dilakukan semata-mata mengharapkan keredhaan Allah SWT, bukan kerana tujuan lain.

7. Tawakkal ertinya berserah diri kepada Allah SWT dalam melakukan sesuatu rancangan.

8. Mahabbah ertinya kasihkan Allah SWT dan hatinya sentiasa cenderung untuk berkhidmat dan beribadat kepadaNya serta bersungguh-sungguh menjaga diri dan jauhkan dari melakukan maksiat.

http://tigosotigo.blogspot.sg/
"


Tatkala kita telah berbuat baik
namun masih dibenci orang,itu
hal biasa.Karena tidak semua
orang memiliki prinsip yang
sama..

Demikian pula bila tanpa sebab
orang lain mendzalimi kita
padahal kita tidak pernah
mengusik kehidupannya,itu
pertanda kehidupan kita lebih
menarik daripada
kehidupannya.Maka bersyukurlah
dan do'akan semoga dia diberi
hidayah agar hidup kita dan
hidupnya tenang..

Kita mungkin tak mampu
mengharapkan orang lain agar
menjaga hati untuk tidak
melukai,namun kita bisa
mengambil hikmah darinya agar
kita tidak terluka untuk kedua
kali..

Sebenarnya tidak sulit untuk
berbuat kebaikan,yang sulit itu
adalah perangai yang
menyusahkan orang karena tidak
senang menyaksikan orang lain
bahagia.Orang yang seperti ini
disadari atau tidak batin dan
jiwanya tentu tersiksa,siangnya
terhina dan malamnya pun
merana..

Jika kita
renungkan,sesungguhnya tugas
kita di dunia ini bukan untuk
membuat semua orang
senang,namun untuk
melaksanakan perintah Allah guna
meraih keridhaan-Nya..

Tetaplah berbuat baik walau
orang lain tidak suka,yang
terpenting Allah ridha dan
bermanfaat bagi sesama.Prinsip
ini harus kita pegang agar tidak
surut dalam
kebaikan.Sungguh..rasa SAKIT
membuatmu lebih KUAT,rasa
TAKUT membuatmu lebih BERANI
dan rasa KECEWA membuatmu
lebih BIJAKSANA.Maka
bersabarlah,Allah bersama orang-
orang yang sabar dalam kebaikan...

Semoga bermanfaat dan
menginspirasi
"