Tampilkan postingan dengan label Cerita Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Mualaf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

~* Pemain Bola Terkenal yang Muslim...


Siapa yang menyangka jika banyak pemain bola internasional yang bermain di klub-klub besar adalah seorang muslim, terlebih dari segi nama. Tidak seperti halnya Karim Benzema, Zlatan Ibrahimovic, dan S
amir Nasri, yang dari nama mereka sudah menjelaskan kemusliman mereka. Diluar dari bagaimana kehidupan pribadi mereka dibawah ini adalah sosok pemain bola terk
e
nal yang ternyata seorang muslim:

1. Frank Ribery
Pemain timnas Prancis ini sepertinya menjadi sorotan utama setelah pada piala dunia 2010 sosok Frank Ribery sering terlihat berdo’a dengan mengangkat tangan keatas selayaknya umat muslim berdo’a. Sudah banyak foto-foto beredar yang menggambarkan pemain munchen ini sedang berdoa di lapangan. Frank “Bilal” Ribery begitu nama tengahnya setelah dia memilih untuk hijrah menjadi muslim, dan rupanya hijrah nya ini bukan main-main, sosok bintang lapangan memilih Islam dan menikah dengan dengan seorang wanita muslim asal Maroko.

2. Lee Woon Jae
Penjaga gawang senior asal Korea Selatan ini ternyata seorang muslim. Lee si “Tangan Laba-Laba” begitu julukannya di negeri gingseng merupakan seorang mualaf, dia hijrah menjadi muslim pada tahun 2004 silam di Piala Dunia German 2006 silam. Yah memang berita mualaf nya Lee tidak tersebar luas karena mungkin negara tempat Lee berada mayoritas penganut Budha dan Kristen, Lee sendiri bergama Kristen sebelum dia memutuskan untuk Hijrah kedalam Islam.
Mungkin di usianya yang terbilang wajib pensiun ini Lee ingin mencari ketenangan bersama Islam selain perkembangan Islam di Korea Selatan semakin luas.

3. Mesut Ozil
Siapa sangka nama sosok Ozil ini ternyata penganut Islam, meski demikian pemain timnas German ini tidak segan-segan menunjukkan ke-Islaman nya di tengah lapangan. Sepertinya keturunan Turki ini benar-benar tidak khawatir dengan sudut pandang Islam di eropa yang sering mencibir Islam, pemain yang sekarang mendapat kehormatan bermain di tim raksasa Spanyol Real Madrid ini karirnya semakin memuncak sejak piala dunia mengawal timnas German di lapangan.

4. Frederic Kanoute
Tidak ada yang menyangka jika pemain yang satu ini adalah muslim, dari nama mungkin orang akan kaget jika ternyata Kanoute adalah seorang muslim. Memang nama yang sering diperlihatkan di televisi dan baju kesebelasannya hanya Frederic Kanoute, tapi ternyata Kanoute memiliki nama tengah yang sering tidak ditampilkan. Pemain bola yang terkenal sangat loyal dan aktif dalam perkumpulan muslim dan masjid ini ternya memiliki nama tengah “Omar” jadi ternyata nama lengkap pemain ini adalah Frederic “Oumar” Kanoute.

5. Nicolas Anelka:
Menjadi salah satu pesepakbola muslim yang namanya cukup diperhitungkan. Pemain yang pernah memperkuat tim nasional Perancis dan kini bergabung dengan tim Inggris Chelsea ini masuk Islam pada tahun 2004, saat ia masih bermain untuk klub sepakbola Manchester.Pada surat kabar The Independent, Anelka berkomentar tentang keislamannya, "Agama saya memberikan kestabilan dan memperkuat pijakan kaki saya di dunia ini. Agama saya membantu saya untuk mengenal siapa dan dimana saya berada."

6. Kolo Toure:
juga seorang muslim yang bermain untuk tim sepakbola Chelsea. Ia diprediksi akan menjadi bintang dalam ajang Piala Dunia tahun ini. Pesepakbola asal Pantai Gading yang memang berasal dari keluarga muslim ini, punya dua saudara yang juga dikenal sebagai bintang lapangan hijau; Yaya dan Ibrahim Toure.

7. Sulley Muntari:
Pesepakbola yang memperkuat tim nasional Ghana. Pada bulan Ramadan tahun 2009, ia menjadi buah bibir, ketika manajer timnya, Jose Maourinho menariknya dari sebuah pertandingan dengan alasan Muntari tidak berenergi karena sedang puasa. Maurinho melontarkan pernyataan kontroversial yang mengatakan bahwa pemain timnya seharusnya tidak berpuasa dulu jka ingin bertanding.

8. Khalid Boulahrouz: Khalid:
julukannya "Khalid the Cannibal" disebut-sebut sebagai julukan paling keren dalam dunia olahraga. Ia memperkuat tim nasional Belanda.

9. Zinedine Zidane:
meski tidak turun ke lapangan dalam World Cup tahun ini dan sudah menyatakan pensiun dari dunia sepakbola tahun 2009 lalu, ia tetap menjadi seorang muslim yang menorehkan sejarah dalam sepakbola dunia, bukan cuma karena insiden ketika Zidane menjedotkan kepalanya pada pemain Italia, Marco Materazzi saat final Piala Dunia tahun 2006, karena Materazzi melontarkan hinaan pada Zidane, tapi karena Zidane memang seorang pemain sepakbola yang handal, terbukti ia pernah tiga kali terpilih sebagai pemain sepakbola terbaik pilihan FIFA.

10. Sami Khedira:
adalah pemain Timnas Jerman keturunan Tunisia. Sebagai pemain tengah di tim nasional dan klub Stuttgart, Khedira dikenal sebagai pemain santun. Pemain berambut gondrong kelahiran 4 April 1987 ini beragama Islam sejak lahir karena orangtuanya berbangsa Tunisia yang mayoritas penduduknya muslim. Sebagai pemain muslim di tim sepakbola, Khedira bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Dia tidak merasa canggung di tengah para pemain yang rata-rata nonmuslim. Bahkan di tim nasional, dia percaya diri bisa menggantikan peran Michael Ballack sebagai gelandang andalan. “Dia pemain potensial dan telah diberi tangguh jawab penuh oleh Stuttgart. Dia juga memperlihatkan diri sebagai pemain dewasa,” ujar pelatih Jerman Joachim low.Sejak kecil, Khedira memang pencinta sepakbola. Tak heran berkat kecintaan dan ketekunannya mengolah Si kulit bundar, Khedira bisa masuk tim nasional jerman U 15 sejak dia beranjak remaja. Kecintaanya pada dunia sepakbola ini tak lepas juga dari kehidupan spiritualnya yang selalu terjaga karena didikan orang tuanya. Kalau Ramadhan tiba, Khedira selalu berusaha untuk tetap berpuasa selama menjalani kompetisi Budensliga di Jerman.

11. Serdar Tasci:
sama seperti Mesut Oezil. Dia adalah pemain nasional Jerman keturunan Turki. Pemain belakang dari klub Stuttgart ini dikenal sebagai muslim ketika 7 juta lebih pemirsa di Stuttgart menyaksikan dia berdoa di pinggir lapangan seperti muslim pada umumnya. Tak jarang pula, dia selalu bersujud kalau klubnya mendapat kemenangan. “Aku berdoa karena ingin tetap sehat dalam bermain dan timku bisa menghadapi tantangan dengan sukses,” kata Tasci.

Sumber : Azroy CR
> Persaudaraan Guru Pendidikan Agama Islam.. (Galuh Rossie)

Selasa, 11 September 2012

~* Cassiano: Saat Melihat Kabah, Saya Menangis Sepanjang Menunaikan Shalat...!

Saya pernah berkata, "Ya Tuhan, keluarkanlah saya dari negara ini atau saya akan mati".
Saya di lahirkan di Brazil, disebuah tempat bernama Petrolina.
Saya tid
ak pernah faham mengapa orang menganut agama.Karena bagi saya agama seperti sebuah fiksi.
Saya mula menjauhkan diri dari gereja, dan saya mula pergi ke arah yang bertentangan.
Saya tidak percaya pada apa pun. Semuanya kelihatan seolah-olah seperti gurauan. Saya benar-benar menjadi bertentangan. Saya tidak percaya dengan agama. Dan waktu-waktu tersebut amat sulit, saya seperti di luar diri saya seperti kata Martin Luther King, seperti kehilangan, 100 persen hilang.

Bulan Februari, saya bermain gitar di karnaval Rio de Janeiro. Waktu itu bukanlah hari yang baik buat saya. Saya sedang berada dalam kesedihan dikarenakan berbagai masalah yang saya hadapi. Saya sedang berada di jalanan dan saya ingin pulang ke rumah. Saya berada dalam keadaan mabuk dengan gitar saya dan saya katakan bahwa saya ingin pulang ke rumah. Berjalan di jalan ke arah rumah, semua orang mabuk dan semuanya kelihatan seperti bayang-bayang pada ketika itu. Itu merupakan sebuah malam yang aneh sekali.

Pada ketika itu saya merasa sangat sedih. Saya mandi pada malam tersebut. Saya masuk ke kamar saya dan melakukan sujud tanpa mengetahui apa itu sujud. Saya hanya melakukannya dan menangis. Saya berkata "Ya Tuhan, keluarkanlah saya dari negara ini atau saya akan mati". Saya merasa sebak sekali saat mengatakannya dan ia merupakan momen yang kuat.

Sebulan selepas peristiwa ini saya berada di Dubai. Seorang teman mengundang saya ke Dubai. Sebelumnya, teman ini memberitahu saya berkaitan Dubai. Saya bertanya kepada teman perempuan saya, "Kini anda sudah berada di Dubai, apa itu Dubai?"

Dia menjawab, "Dubai terletak di Timur Tengah, di Teluk Persia."
Saya berkata, "Berhati-hatilah, mereka lagi berperang, dan mereka adalah Muslim. Berhati-hatilah dengan orang Islam. Mereka akan membunuh anda!"
Dia mula tertawa dan berkata, "Bukan, bukan demikian di sini." Dia menambahkan, "Saya juga seorang Muslim."
Saya berkata, "Wah, anda seorang Muslim?? Berhati-hatilah!"
Dia berkata, "Anda harus datang dan melihat sendiri jika benar seperti yang anda katakan."
Saya tidak membayar apa-apapun, seolah-olah Allah telah membawa saya keluar dari Brazil dan pergi ke Dubai.

> Di Dubai
Selepas dua bulan tinggal di Dubai, saya memeluk agama Islam dan mengucapkan syahadah karena begitu nyata sekali bahwa saya berada di jalan yang salah, melakukan perkara yang salah dan Islam menjelaskannya. Begitu transparan sekali.
Adel seperti saudara saya. Dia merupakan teman terbaik saya di Dubai. Dia membantu saya dalam segala hal dan di setiap langkah. Kami banyak sekali berbincang. Alhamdulillah, dia merupakan rekan terbaik saya. Dia mengajar saya tentang Islam.

Perkara pertama yang saya tanyakan berkaitan Islam ialah "Adakah kita perlu shalat setiap hari?"Dia berkata, "Ya".
Saya mengulangi pertanyaan saya, "Anda shalat setiap hari?!"
Dia menjawab "Ya, setiap hari".

Apa yang paling menarik bagi saya dalam Islam ialah wudhu.Karena kita mandi untuk banyak perkara dalam hidup. Kita mandi untuk pergi kerja. Kita mandi untuk bertemu teman. Kita juga mewangikan diri kita dan sebagainya. Tetapi kita tidak melakukan perkara ini ketika kita menemui Tuhan kita, kita tidak mandi untuk bertemu Tuhan, mengapa? Kita harus melakukannya. Jika anda ingin menemui raja, sudah pasti anda akan mewangikan diri anda. Oleh yang demikian, jika anda ingin menemui Tuhan, sudah tentu anda tidak akan menemui-Nya dengan keadaan diri yang kotor.

Saya merupakan anak tunggal dalam keluarga. Saya menemui saudara dalam Islam seperti hubungan saya dengan Adel. Ibu saya juga tidak pernah menemui Adel, tetapi dia berkata, "Cassiano, anda telah mempunyai seorang saudara, maka dia juga adalah anak saya.Kini dia saya anggap sebagai anak saya". Kami sungguh gembira dapat bertemu. Ia seperti sesuatu yang telah direncanakan. Allah telah merencanakan segalanya dan Dia punya rencana untuk menjalin hubungan antara manusia. Dia membawa saya keluar dari Brazil, dari Rio de Janeiro dan menempatkan saya di Dubai tanpa mengeluarkan sedirham uang sekalipun. Saya pulang ke Brazil dan kemudian kembali lagi ke Dubai tanpa mengeluarkan sedirham uang sekalipun. Allah pasti telah merencanakannya untuk saya. Saya lagi berusaha untuk memastikan bahwa semuanya berjalan menurut ketetapan-Nya.

Saya menunaikan shalat jamaah pada hari Jumat disebuah masjid besar di Sharjah. Masjid dipenuhi dengan ribuan orang, dan ketika saya selesai melafazkan syahadah, dan mereka tahu bahwa saya dari Brazil. Semua mengatakan seperti "Dia dari Brazil, dia main sepakbola." Saya kelihatan begitu gagah sekali. Semua datang mengucapkan tahniah kepada saya. Hampir dua jam saya berdiri menerima pelukan, ciuman dan ucapan tahniah dari mereka, malah ada yang menghadiahkan buku. Begitu mengharukan. Setiap orang seperti saudara saya. Saya anak tunggal, kini saya punya ramai saudara, Alhamdulillah, saya sungguh merasa bahagia.

Saya punya keluarga di Dubai. Keluarga Adel adalah seperti keluarga saya. Kini saya punya dua ibu, dua ayah dan mereka benar-benar melayani saya seperti anak mereka..

Secara jujur saya temui kedamaian di sini, yang tidak saya temui di sana. Rekan yang benar, saudara yang benar yang tidak saya miliki di Brazil. Saya punya teman sebelum ini yang menemani saya ke bar atau ke pesta, hanya untuk ini. Kini setelah memeluk agama Islam dan pulang ke Brazil, mereka berkata, "Cassiano tidak lagi minum. Dia telah menjadi seorang muslim. Jangan ajak dia." Mereka menjauhkan diri dari saya. Hal ini merupakan pilihan buat saya. Allah telah memilih yang terbaik untuk menjadi teman saya.

Kehidupan saya bermula ketika saya pergi ke Timur Tengah, Dubai. Saya tidak lagi bisa tinggal di satu tempat yang tidak punya masjid. Masjid telah menjadi sesuatu yang mempesonakan bagi saya. Ia merupakan suatu yang indah dan menakjubkan.

> Perjalanan ke Madinah dan Mekah
Seorang teman bernama Syeikh Yahya menelepon saya dan berkata, "Cassiano, telepon nomor ini, mereka akan melakukan umrah". Saya pun menelepon, seorang bernama Ahmad menjawab dan berkata, "Mohon maaf karena rombongan kami telah lengkap 15 orang".
Saya berkata, "Benar demikian?"
Dia berkata, "Ya." Kemudian dia bertanyakepada saya, "Siapa nama anda?"
Saya berkata, "Saya Cassiano dan saya benar-benar ingin melakukan umrah. Ini merupakan sesuatu yang baru buat saya. Saya baru memeluk Islam kira-kira 3 tahun."

Dia menelepon saya pagi keesokan harinya dan berkata, "Ada seorang yang tidak dapat pergi. Oleh karenanya anda bisa mengantikan tempatnya."
Alhamdulillah, Allah memudahkan perjalanan saya. Alhamdullah, Allah lah yang memelihara saya. Saya benar-benar dapat merasakannya. Saya merasakan bahwa Allah lah yang menjaga kehidupan saya dan diri saya.

Kami tiba di Madinah. Hotel penginapan kami berdekatan dengan masjid Nabi Muhammad Saw. Kami merasa gembira karena dapat berdekatan dengan tempat mulia itu. Ia begitu baik sekali dan orang-orang di Madinah begitu ramah sekali. Mereka membuka salah satu pintu untuk kami supaya kami bisa melihat bagian dapat menyaksikan makam Nabi Muhammad Saw.

Polisi yang berdiri di sisi kubur memberitahu saya, "Marilah ke sini dan ucapkan Assalamualaikum ke atas Nabi". Sayapun melakukannya dan berdoa semoga Allah memberikan bimbingan buat ibu dan bapa dan semua orang, saya merasa lapang dan mulai menangis.

Selepas ini, kami tinggal tiga hari di Madinah dan mulai perjalanan menuju Mekah untuk bersalin pakaian Ihram. Ketika memasuki Haram dan melihat Ka'bah, yang kebetulan masuk waktu zuhur, semua berbaris untuk menunaikan shalat bersama. Saya melihat Ka'bah, saya mula menangis kembali dan menangis sepanjang menunaikan shalat. Saya tidak tahu. Yang terjadi seolah-olah seperti melakukan shalat lima waktu setiap hari ke arah tersebut dan saya berada di situ dan seperti tempat yang lama. Ia merupakan tempat yang istimewa. Ini merupakan semua perkara dalam Islam yang saya yakini, semuanya ada di sini. Bagi saya, ia merupakan sebuah tempat yang terbaik di muka bumi ini. Saya benar-benar gembira karena dapat berada di Madinah dan Mekah. Sungguh mempesonakan dan saya sungguh gembira.

Keimanan saya menyebabkan saya terus hidup, terus terjaga, dan memberikan saya harapan. Saya sungguh-sungguh mencintai Allah.

Kalau pada waktu lalu, banyak sekali perkara yang saya utamakan dalam hidup saya, tetapi kini Allah merupakan yang pertama dalam hidup saya.
(IRIB Indonesia/onislam.net)
-----------
> Persaudaraan Guru Pendidikan Agama Islam.. (Galuh Rossie)

Burns, Kaligrafi Masjid Alhambra Mengantarnya Menjadi Seorang Muslimah ~ by Admint Nhaya

“Saya duduk di dalam Masjid Alhambra, Spanyol sambil menatap tulisan yang terukira indah di dinding-dindingnya. Tulisan yang paling indah yang pernah saya lihat. Saya lalu bertanya pada orang-orang di sekitar ‘bahasa apa itu?’ mereka menjawab bahwa itu bahasa Arab,” kenang Karima Burns ketika pertama kali ia 
mengenal tulisan dalam bahasa Arab.

Tulisan Arab yang pertama kali dilihat Burns ternyata sangat berkesan di hatinya. Hingga keesokan harinya, ketika pemandu tur menanyakan soal pilihan bahasa buku panduan wisata yang ia inginkan, dengan mantap Burns menjawab ia menginginkan buku panduan wisata yang ditulis dalam bahasa Arab.

“Bahasa Arab? Apa Anda bisa berbahasa Arab,” tanya si pemandu ingin tahu.

“Tidak. Bisakah Anda juga memberikan saya buku versi bahasa Inggrisnya?” kata Burns.

Di akhir perjalanan wisatanya, Burns membawa “oleh-oleh” satu tas penuh buku panduan wisata tempat-tempat yang dikunjunginya di Spanyol. semuanya berbahasa Arab. Saking banyaknya, Burns sampai memberikan pakaiannya pada orang lain agar buku-buku itu bisa masuk semua ke dalam tasnya. Baginya, buku-buku panduan wisata berbahasa Arab itu ibarat emas yang lebih berharga dibandingkan baju-bajunya. Ia membuka buku-buku itu setiap malam dan mengagumi tulisan-tulisan Arab di halaman demi halaman.

“Saya berkhayal bisa menulis tulisan yang indah itu dan saya mulai berpikir pasti ada sesuatu yang berharga dari sebuah budaya yang memiliki bahasa yang sangat artistik. Saya bertekad untuk mempelajari bahas ini begitu saya mulai kuliah pada musim gugur,” tutur Burns.

Dua bulan menjelang kuliahnya dimulai, Buns meninggalkan keluarganya di Iowa dan berangkat ke Eropa, sendirian. Usianya ketika itu baru 16 tahun. “Saya ingin melihat dunia dulu sebelum masuk kuliah di Universitas Northewestern. Itulah yang saya katakan pada teman-teman dan keluarga. Padahal sebenarnya saya sedang mencari jawaban. Saya sudah meninggalkan gereja beberapa bulan sebelumnya, dan tak tahu kemana harus berpaling. Saya tak tahu alternatif apa yang akan saya pilih,” ungkap Burns.

Ia berharap bisa menemukan ide apa yang akan ia lakukan setelah “keluar” dari gereja. Di gereja, kata Burns, umat Kristiani tidak diizinkan berdoa langsung pada Tuhan. Mereka hanya bisa berdoa pada Yesus dan berharap Yesus akan meneruskan doa itu pada Tuhan. Burns merasa ada yang salah dengan ajaran seperti itu dan diam-diam ia selalu berdoa langsung pada Tuhan. Burns percaya bahwa hanya ada satu entitas dengan siapa ia harus berdoa. Tapi di dalam hatinya, Burns merasa bersalah karena tidak menaati apa yang telah diajarkan agamanya. Situasi itu membuatnya bingung dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Burns bertanya-tanya mengapa umat Kristiani diwajibkan ke gereja hanya pada hari Minggu. Ia bingung melihat tingkah orang-orang yang berbeda 180 derajat ketika ada di gereja dan ketika berada di luar gereja. Apakah bersikap baik hanya pada hari Minggu saja, saat mereka semua harus ke geraja? Burns tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Ia membaca tentang 10 larangan Tuhan, seperti tidak boleh membunuh, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan hal-hal buruk lainnya yang sudah jelas. Di luar itu, Burns tak menemukan tuntutan bagaimana ia harus bertindak ketika berada di luar gereja.

“Yang saya tahu, mungkin tidak pantas mengenakan rok mini ke gereja atau kami ke gereja pada hari Minggu supaya bisa melihat cowok-cowok keren di gereja,” ungkap Burns.

Suatu hari, ia berkunjung ke rumah seorang gurunya dan di sana ia melihat jejeran alkitab di rak buku. Menurut gurunya, alkitab itu berbeda-beda versi. Ia melihat gurunya tidak terlalu peduli melihat alkitab denga banyak versi berbeda. Tapi Burns merasa tak nyaman mengetahui hal itu. Ia menemukan bagian yang sangat berbeda antara versi yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada bab-bab yang tidak ia temukan seperti di dalam alkitab yang sering dibacanya. Burns makin bingung.

Di Eropa ia tidak menemukan jawaban atas kebingungannya. Burns pun pulang dengan perasaan kecewa. Tapi keinginannya untuk mempelajari bahasa Arab tetap membara. Saat menatap tuisan di dinding Masjid Alhambra, Burns tidak menyadari bahwa tulisan itulah jawaban atas semua keresahan jiwanya. Burns baru menyadarinya dua tahun kemudian.

Belajar Bahasa Arab
Di hari pertama ke kampus, Burns langsung mendaftarkan diri ke kelas bahasa Arab. Hanya ada empat orang, termasuk dirinya yang mendaftar ke kelas yang paling tidak populer di kampus itu. Semangat dan minat Burns yang tinggi pada bahasa Arab membuat guru bahasa Arabnya terheran-heran. Ia mengerjakan PR dengan menggunakan pena untuk kaligrafi. Ia juga mengunjungi komunitas Arab di Chicago hanya untuk mencari tahu kebenaran soal bahasa Arab dalam tulisan botol Coca Cola. Setengah memelas, Burns memohon agar guru bahasa Arabnya meminjamkan buku-buku dalam tulisan Arab agar ia bisa melihat dan mengagumi bentuk tulisan Arab itu.

Di tahun kedua kuliahnya, Burns memutuskan untuk mengambil jurusan studi Timur Tengah. Ia lalu mengambil beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan studi tersebut. Salah satunya mata kuliah tentang Al-Quran.
“Suatu malam saya membuka Al-Quran untuk mengerjakan PR kuliah dan saya tidak bisa berhenti membacanya. Seolah-olah saya menemukan sebuah novel menarik yang membuat saya terus membacanya. Membaca Al-Quran, hati saya berteriak ‘Wow, ini hebat sekali. Inilah yang selalu saya yakini.’ Al-Quran memberikan jawaban atas semua pertanyaan saya soal bagaimana kita harus berperilaku setiap hari dan dalam Al-Quran juga dengan jelas ditegaskan bahwa Tuhan itu satu,” papar Burns.

Ia mengaku terkagum-kagum ada sebuah “buku” yang menuliskan semua yang ia yakini dan apa yang selama ini ia cari, dan apa yang tertulis di dalamnya, semuanya masuk akal. Keesokan harinya ia di kelas Al-Quran ia menanyakan tentang pengarang “buku” itu, karena di “buku” itu tertulis satu nama orang.

Profesor di kelasnya memberitahunya bahwa nama yang tertulis di dalam “buku” itu bukan nama pengarangnya tapi nama penerjemahnya. Burns juga mendapat penjelasan bahwa Qur’an berisi firman-firman Allah dan sejak diturunkan tidak penrah mengalami perubahan, terus dibaca dan kemudian dikumpulkan dalam bentuk “buku”.

“Saya betul-betul terpesona dan makin bergairah untuk mempelajari bahasa Arab, bahkan lebih dari itu, saya jadi ingin mempelajari Islam dan berniat jalan-jalan ke Timur Tengah,” tukas Burns.

Di tahun terakhir kuliahnya, ia berangkat ke Mesir melanjutkan studi Timur Tengahnya. Kota Kairo menjadi tempat “Islami” favoritnya karena berada di masjid-masjid di kota itu membuatnya merasa tenang dan tentram. “Saya bisa merasakan, berada di dalam masjid, seseorang bisa merasakan keindahan, kekuatan dan kehadiran Allah Swt. Dan saya begitu menikmati tulisan-tulisan kaligrafi yang elegan di dinding-dinding masjid,” ujar Burns.

Suatu hari, seorang teman Burns bertanya mengapa ia tidak masuk Islam saja jika ia sangat mengagumi Islam. Dengan enteng Burns menjawab, “Tapi saya sudah menjadi muslim”, sebuah jawaban yang ia sendiri kaget mendengarnya. Saat itu Burns beranggapan bahwa menjadi muslim adalah persoalan logika dan persoalan sederhana. Burns mengakui Islam adalah agama yang bisa diterima akalnya, memberinya inspirasi dan ia mengakui kebenaran ajaran Islam. Ia berpikir, jika sudah mengakuinya, kenapa ia juga harus pindah agama? Sahabat Burns tadi lalu menjelaskan bahwa ada yang wajib dilakukan Burns jika ia secara resmi ingin menjadi seorang muslim.

Burns akhirnya mengikuti saran sahabatnya itu. Ia lalu datang ke sebuah masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan dua orang saksi. Ia pun resmi menjadi seorang muslim dan diberikan sebuah sertifikat sebagai tanda bahwa ia sudah menjadi seorang muslim.

“Tapi saya menyimpan sertifikat itu bersama tumpukan surat-surat pribadinya. Buat saya, tidak perlu menggantung sertifikat itu agar orang tahu saya seorang muslim. Saya sudah dan akan selalu menjadi seorang muslim. Begitu saya membuka Al-Quran, saya merasa menemukan keluarga saya yang sudah lama hilang. Saya lebih senang memajang gambar masjid Alhambra di dinding kamar saya, daripada sertifikat keislaman saya,” tandas Karima Burns.

Postingan : http://www.kaze-kate.net/2012/07/Burns-Kaligrafi-Masjid-Alhambra-Mengantarnya-Menjadi-Seorang-Muslimah.html | Jika sahabat Let's Learn About Islam mau share ini catatan dengan menggunakan ponsel bisa dengan klik :http://on.fb.me/NO9rgO